Gerakan Tanam dan Bimtek Pengendalian OPT Perkuat Akselerasi Swasembada Pangan di Kabupaten Kediri
Kementerian Pertanian terus memperkuat langkah percepatan pencapaian swasembada pangan berkelanjutan melalui berbagai program strategis di daerah. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Gerakan Tanam (Gertam) Padi yang dirangkaikan dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di Kabupaten Kediri. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Pemanis dan Serat (BRMP TAS) bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas padi melalui percepatan tanam sekaligus penguatan kapasitas penyuluh dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Gerakan Tanam dilaksanakan di lahan Kelompok Tani Rukun Tani Purworejo, Desa Karangpakis, Kecamatan Purwoasri. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam mendorong percepatan luas tambah tanam (LTT) sehingga siklus tanam dapat berlangsung lebih optimal dan target produksi padi di Kabupaten Kediri dapat tercapai sesuai sasaran Program Nasional Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Usai pelaksanaan Gerakan Tanam, kegiatan dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis Pengendalian OPT di Aula Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Plemahan yang diikuti lebih dari 104 peserta. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BRMP TAS Dr. Sri Suhesti, S.P., M.P., Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Koordinator Tim Kerja (Katimker) Penyuluhan Kabupaten Kediri Zuraidah, S.P., para penyuluh pertanian lapangan, petugas pengendali OPT, Babinsa, serta perwakilan kelompok tani.
Dalam sambutannya, Kepala BRMP TAS Dr. Sri Suhesti, S.P., M.P. menegaskan bahwa keberhasilan Program Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi budidaya modern, tetapi juga oleh kesiapan seluruh pihak dalam mengantisipasi ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan.
"Penerapan teknologi PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas melalui pengaturan populasi tanaman yang lebih optimal. Namun, kondisi tersebut juga menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap potensi serangan hama dan penyakit. Karena itu, sinergi antara penyuluh pertanian, petugas pengendali OPT, pemerintah daerah, serta petani menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan program ini. Pengendalian OPT harus dilakukan secara terpadu, tepat sasaran, dan berkelanjutan agar produktivitas tetap terjaga dan juga termaksimalkan" tegas Dr. Sri Suhesti. Ia juga menambahkan bahwa pendampingan kepada petani harus terus diperkuat agar inovasi teknologi yang dikembangkan Kementerian Pertanian dapat diterapkan secara optimal di tingkat lapangan.
"Melalui pendampingan yang berkesinambungan, kami ingin memastikan bahwa setiap teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan manfaat bagi petani. Dengan demikian, produktivitas meningkat, risiko kehilangan hasil dapat ditekan, dan target swasembada pangan nasional dapat diwujudkan secara berkelanjutan," tambahnya.
Bimbingan teknis diawali dengan pemaparan materi "Strategi Pengendalian OPT Terpadu untuk Mendukung Penerapan Teknologi Budidaya PM-AAS" oleh Kepala Bidang Pengelolaan Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Rini Pudyastuti, S.T.P. Selanjutnya, Slamet Widodo, S.P. menyampaikan materi mengenai Pengendalian Ramah Lingkungan OPT Wereng Batang Cokelat (WBC), sementara Subekti Suhandoko, S.P. membawakan materi Pengendalian Ramah Lingkungan OPT Tikus.
Materi yang diberikan meliputi identifikasi dini serangan hama dan penyakit, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida secara bijaksana sesuai dosis anjuran, serta pentingnya monitoring kondisi pertanaman secara rutin. Melalui kegiatan ini, petani diharapkan mampu menerapkan pengendalian OPT yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan sehingga produktivitas tanaman tetap terjaga secara berkelanjutan.
Kegiatan Gerakan Tanam dan Bimbingan Teknis Pengendalian OPT ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, petugas pengendali OPT, aparat pendamping, dan kelompok tani dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat peningkatan produksi padi sekaligus memperkuat implementasi teknologi pertanian modern di tingkat lapangan.